Pengikut

Sabtu, 24 Maret 2012

TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK



PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Behaviorisme merupakan salah satu pendekatan untuk memahami perilaku individu. Behaviorisme memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek-aspek mental. Dengan kata lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. Behaviorisme tidak mau mempersoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional atau emosional, behaviorisme hanya ingin mengetahui bagaimana perilakunya dikendalikan oleh faktor-faktor lingkungan.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa definisi teori belajar psikologi behavioristik?
2.      Bagaimana konsep teori belajar behavioristik?
3.      Bagaimana implikasi dari teori-teori belajar tersebut?
C.    Tujuan
Tujuan pembelajaran menurut teori behavioristik ditekankan pada penambahan pengetahuan, sedangkan belajar sebagi aktivitas “mimetic”, yang menuntut pebelajar untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari dalam bentuk laporan, kuis, atau tes. Penyajian isi atau materi pelajaran menekankan pada ketrampilan yang terisolasi atau akumulasi fakta mengikuti urutan dari bagian ke keseluruhan. Pembelajaran mengikuti urutan kurikulum secara ketat, sehingga aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada buku teks/ buku wajib dengan penekanan pada ketrampilan mengungkapkan kembali isi buku teks/buku wajib tersebut. Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil belajar.





PEMBAHASAN

A.    Teori Behaviorisme
1.      Pengertian
Secara pragmatis, teori belajar dapat dipahami sebagai prinsip umum atau kumpulan prinsip yang saling berhubungan dan merupakan penjelasan atas sejumlah fakta dan penemuan yang berkaitan dengan peristiwa belajar.[1] Teori pembelajaran behaviorisme di bedakan antara teori pelaziman klasik (classical conditioning), dan teori pelaziman  operan (operqnt conditioning).[2]
Menurut teori ini yang terpenting adalah masukan atau input yang berupa stimulus dan keluaran atau output yang berupa respons. Dalam contoh di atas, stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada siswa misalnya daftar perkalian, alat peraga, pedoman kerja, atau cara-cara tertentu, untuk membantu belajar siswa, sedangkan respons adalah reaksi atau tanggapan siswa terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Menurut teori behavioristik, apa yang terjadi di antara stimulus dan respon dianggap tidak penting. Oleh sebab itu, apa saja yang diberikan guru (stimulus), dan apa saja yang dihasilkan siswa (respons), semuanya harus dapat diamati dan diukur.[3]
Dalam arti teori belajar yang lebih menekankan pada tingkah laku manusia.[4] Pengalaman-pengalaman batin di kesampingkan. Dan hanya perubahan gerak gerik pada badan sajalah yang di pelajari. Maka sering kali dikatakan bahwa kaum behaviorisme ini adalah psikolog tanpa Jiwa.[5] Pada teori belajar ini sering disebut S-R psikologis artinya bahwa tingkah laku manusia dikendalikan oleh ganjaran atau reward dan penguatan atau reinforcement dari lingkungan. Dengan demikian dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat antara reaksi-reaksi behavioural dengan stimulusnya. Guru yang menganut pandangan ini berpandapat bahwa tingkahlaku siswa merupakan reaksi terhadap lingkungan dan tingkah laku adalah hasil belajar.[6]
2.      Tokoh-Tokoh Teori Belajar Behaviorisme
a.      Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936)
Ivan Petrovich Pavlov mengemukakan bahwa dengan menerapkan strategi, ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan, sementara individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh stimulus yang berasal dari luar dirinya.[7]
Pavlov mengadakan percobaan laboratories terhadap anjing. Dalam percobaan ini anjing di beri stimulus bersarat sehingga terjadi reaksi bersarat pada anjing. Contoh situasi percobaan tersebut pada manusia adalah bunyi bel di kelas untuk penanda waktu tanpa disadari menyebabkan proses penandaan sesuatu terhadap bunyi-bunyian yang berbeda dari pedagang makan, bel masuk, dan antri di bank. Belajar menurut teori ini adalah suatu proses perubahan yang terjadi karena adanya syarat-syarat yang menimbulkan reaksi.
b.      Thorndike (1874-1949)
Menurut Thorndike belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa yang disebut stimulus dan respon.[8] Dalam hal ini Thorndike melakukan eksperimen dengan sebuah puzzlebox. Eksperimen yang dilakukan adalah dengan kucing yang dimasukkan pada sangkar tertutup yang apabila pintunya dapat dibuka secara otomatis bila knop di dalam sangkar disentuh. Percobaan tersebut menghasilkan teori Trial dan Error. Atas dasar percobaan di atas, Thorndike menemukan hukum-hukum belajar : Hukum Kesiapan (Law of Readiness), Hukum Latihan, Hukum akibat ( Efek )
c.       Skinner (1904-1990)
Skinner menganggap reward dan reinforcement merupakan faktor penting dalam belajar. Skinner berpendapat bahwa tujuan psikologi adalah meramal, mengontrol tingkah laku[9]. Pada teori ini guru memberi penghargaan hadiah atau nilai tinggi sehingga anak akan lebih rajin. Teori ini juga disebut dengan operant conditioning. Operant conditing menjamin respon terhadap stimuli. Guru memiliki peran dalam mengontrol dan mengarahkan siswa dalam proses belajar sehingga tercapai tujuan yang telah di rumuskan.[10]
3.      Analisis Tentang Teori Behavioristik
Menurut saya Kaum behavioris menjelaskan bahwa belajar sebagai suatu proses perubahan tingkah laku dimana reinforcement dan punishment menjadi stimulus untuk merangsang pembelajar dalam berperilaku. Pandangan teori behavioristik telah cukup lama dianut oleh para pendidik. Namun dari semua teori yang ada, teori Skinnerlah yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan teori belajar behavioristik. Program-program pembelajaran seperti Teaching Machine, Pembelajaran berprogram, modul dan program-program pembelajaran lain yang berpijak pada konsep hubungan stimulus-respons serta mementingkan faktor-faktor penguat (reinforcement), merupakan program pembelajaran yang menerapkan teori belajar yang dikemukakan Skiner.
Teori behavioristik banyak dikritik karena seringkali tidak mampu menjelaskan situasi belajar yang kompleks, sebab banyak variabel atau hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan dan/atau belajar yang dapat diubah menjadi sekedar hubungan stimulus dan respon. Teori ini tidak mampu menjelaskan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam hubungan stimulus dan respon.
Pandangan behavioristik juga kurang dapat menjelaskan adanya variasi tingkat emosi pebelajar, walaupun mereka memiliki pengalaman penguatan yang sama. Pandangan ini tidak dapat menjelaskan mengapa dua anak yang mempunyai kemampuan dan pengalaman penguatan yang relatif sama, ternyata perilakunya terhadap suatu pelajaran berbeda, juga dalam memilih tugas sangat berbeda tingkat kesulitannya.
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari pernyataan di atas saya menyimpulkan bahwasannya, Kaum Behaviorisme berpandangan perilaku manusia itu terbentuk melalui perkaitan antara rangsangan (stimulus) dengan tindak balas (respons). Menurutnya perilaku adalah sesuatu yang dapat di amati dengan alat indera. Pembelajaran merupakan proses pembentukan perkaitan antara rangsangan dan tindak balas atau stimulus-respons. Dengan demikian, maka perubahan perilaku itu lebih banyak karena pengaruh lingkungan. Menurut teori ini yang terpenting adalah masukan atau input yang berupa stimulus dan keluaran atau output yang berupa respons. Dalam contoh di atas, stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada siswa misalnya daftar perkalian, alat peraga, pedoman kerja, atau cara-cara tertentu, untuk membantu belajar siswa, sedangkan respons adalah reaksi atau tanggapan siswa terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Menurut teori ini apa yang terjadi di antara stimulus dan respon dianggap tidak penting. Oleh sebab itu, apa saja yang diberikan guru (stimulus), dan apa saja yang dihasilkan siswa (respons), semuanya harus dapat diamati dan diukur. Teori behavioristik juga cenderung mengarahkan pembelajar untuk berfikir linier, konvergen, tidak kreatif dan tidak produktif. Pandangan teori ini bahwa belajar merupakan proses pembentukan atau shaping, yaitu membawa pebelajar menuju atau mencapai target tertentu, sehingga menjadikan peserta didik tidak bebas berkreasi dan berimajinasi. Padahal banyak faktor yang mempengaruhi proses belajar, proses belajar tidak sekedar pembentukan atau shaping. Pandangan behavioristik hanya mengakui adanya stimulus dan respon yang dapat diamati. Mereka tidak memperhatikan adanya pengaruh pikiran atau perasaan yang mempertemukan unsur-unsur yang diamati tersebut.





[1] Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT Raja Grafindo Pustaka, 2009 ), 92.
[2] Prof. Dr. H. Mohammad surya, Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran,( Bandung:  Pustaka Bani Quraisy, 2004) 22.
[3] Asri Budiningsih, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2005), 20.
[4] Margaret E. Bell Gredle,Belajar dan Membelajarkan,(Jakarta: CV Rajawali Press, 1991), 44.
[5] Drs. Abu ahmadi dan Drs. M. Umar M.A, Psikologi Umum, (Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1992),32.
[6] Drs. M. Dalyono, Psikologi Pendidikan,(Jakarta: PT Rineka Cipta, 1997), 30.
[7] Baharuddin, Nur Wahyuni, Teori Belajar danPembelajaran, (Jogjakarta: Ar-Ruz Media, 2008), 57.
[8] Drs. M. Dalyon. Ibid., 31.
[9] Drs. M. Dalyon. Ibid., 32.
[10]Drs. M. Dalyon. Ibid., 33.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar