Pengikut

Sabtu, 24 Maret 2012

menghindari Akhlak tercela



MATERI DASAR
  • Akhlak
STANDAR KOMPETENSI
  • Menghindari perilaku tercela
KOMPETENSI DASAR
  • Menjelaskan pengertian Ananiah, ghadab, hasad, ghibah dan namimah.
  • Menyebutkan contoh perilaku  Ananiah, ghadab, hasad, ghibah dan namimah.
  • Menghindari perilaku Ananiah, ghadab, hasad, ghibah dan namimah dalam kehidupan sehari-hari.















PEMBAHASAN
A.    ANANIAH (EGOIS)
1.     Pengertian Ananiah
Ananiah artinya sifat yang mementingkan diri sendiri. Sikap ini tidak pernah menghiraukan orang lain. Orang yang terhinggapi sifat ini tidak pernah mau tahu terhadap orang lain. Ia memandang dapat hidup karena dirinya sendiri. Dia tak pernah berfikir bahwa kehidupannya tidak dapat terlepas dari orang lain.[1]
Sifat egois ini termasuk dalam kategori sifat sombong yang di larang oleh ajaran agama Islam. Firman Allah SWT  dalam surat Luqman ayat 18:
Ÿwur öÏiè|Áè? š£s{ Ĩ$¨Z=Ï9 Ÿwur Ä·ôJs? Îû ÇÚöF{$# $·mttB ( ¨bÎ) ©!$# Ÿw =Ïtä ¨@ä. 5A$tFøƒèC 9qãsù ÇÊÑÈ  
Atinya : dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.[2]
2.     Akibat Negatif Ananiah
Sifat egois yang mementingkan diri sendiri dan merasa mampu mengurus diri sendiri tanpa bantuan orang lain. Egois adalah perilaku yang tidak di sukai Allah SWT dan manusia. Adapun akibat dari Egois :
a.      Dimurkai oleh Allah, karena merasa mampu tanpa mengingat bahwa kemampuannya itu semata-mata dari Allah SWT.
b.     Sifat egois juga akan menjadikan orang lupa diri, sehingga kemampuan yang di milikinya cenderung tidak berkembang.
c.      Orang yang egois tidak dapat menjalankan peran hidupnya dengan baik. Misalnya, bila sifat egois dimiliki oleh orang tua, maka dia tidak dapat membimbing anak-anaknya dengan baik.
d.     Sifat egois juga menjadikan seseorang sulit di nasehati. Jadi kalau seseorang yang egois sudah mempunyai pendirian yang salah, maka di sulit berubah karena tidak mau diingatkan atau tidak mau menerima nasehat.
e.      Orang yang egois akan merasa malu bila pada saat suatu ketika membutuhkan bantuan orang lain.
3.     Cara menghindari Ananiah
Ananiah (egois) dapat di hindari dengan cara-cara sebagai berikut :
a.      Memperkuat keimanan kepada Allah SWT, karena hanya Allah sajalah yang Maha Mandiri dan Maha Kuasa atas segala sesuatu.
b.     Menyadari bahwa manusia di takdirkan untuk menjadi makhluk social yang saling membutuhkan antara yang satu dengan yang lainnya.
c.      Memupuk semangat kebersamaan dan toleransi dengan menumbuhkan kesadaran bahwa manusia memang di ciptakan Allah SWT berbeda-beda, masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangannya.[3]
B.    GHADAB (PEMARAH)
1.     Pengertian Ghadab
Ghadab (pemarah) artinya sifat seseorang yang mudah marah. Setiap melihat atau menghadapi persoalan kehidupan yang tidak di sukai sekecil apapun langsung marah. Setiap orang memang di karuniai oleh Allah SWT gejala Emosional seperti senang, susah, geli, dan marah. Dengan demikian pada dasarnya setiap orang bias marah, namun karena marah dapat menimbulkan berbagai akibat negatif, maka Allah SWT dan Rasul-Nya memerintahkan agar kita dapat menahan marah tersebut.
Imam Ghazali mengelompokkan tipe manusia menjadi 4 macam yaitu :
1)     Orang yang mudah marah dan sulit memaafkan.
2)     Orang yang mudah marah dan mudah memaafkan
3)     Orang yang sulit marah dan sulit memaafkan.
4)     Oranng yang sulit marah dan mudah memaafkan.
Diantara keempat tipe manusia tersebut yang terbaik tentulah yang sulit marah dan mudah memaafkan. Tipe seperti inilah yang di contohkan oleh Rasulullah SAW. Menahan marah merupakan salah bentuk ketakwaan seseorang. Dengan kata lain salah satu ciri ketakwaan seseorang adalah kemampuanyya dalam menahan marah dan memaafkannya.
Allah berfirmn dalam Q.S Ali Imran ayat 134 yang berbunyi:
tûïÏ%©!$# tbqà)ÏÿZムÎû Ïä!#§Žœ£9$# Ïä!#§ŽœØ9$#ur tûüÏJÏà»x6ø9$#ur xáøtóø9$# tûüÏù$yèø9$#ur Ç`tã Ĩ$¨Y9$# 3 ª!$#ur =Ïtä šúüÏZÅ¡ósßJø9$# ÇÊÌÍÈ  
134. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.[4]
Pemarah bukanlah orang yang kuat, melainkan orang yang lemah kemarahannya meninggalkan banyak kelemahan. Hakekat manusia yang kuat adalah bukan manusia yang mudah untuk marah dan semua yang ada di sekitarnya menjadi sasaran kemarahannya. Orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan diri ketika hendak marah hadist Rasulullah SAW :
عن ابي هريراة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ليس اشديد بالصرعة انما اشديدالدي يملك نفسه عندل الغضب (متفق عليه)
Artinya : Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA katanya : sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : Kekuatan itu tidak di buktikan dengan  kemenangan dalam bergulat. Tetapi orang yang ialah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika sedang marah (H.R. Bukhari dan Muslim)[5]
Sifat pemarah cenderung untuk tidak menyelesaikan persoalan dengan kepala dingin, artinya dengan baik-baik dan kekeluargaan. Sebaliknya masalah di hadapi dengan mengedepankan emosi, sehingga penyelesaian masalah tidak sempurna, sekalipun setelah itu harus menyesal. Dengan demikian orang yang pemarah sangat berbahaya.
2.     Akibat Negatif Ghadab[6]
Ketika sedang marah, seseorang tidak mampu menguasai diri alias lupa diri. Keadaan jiwanya sangat labil karena dibakar emosi. Bila kondisi seseorang sudah demikian maka dia akan melakukan sesuatu tanpa perhitungan. Dengan demikian seseorang yang sedang marah atau menjadi pemarah dapat menimbulkan dampak negative berupa:
a.      Keputusan dan tindakan orang marah cenderung menambah masalah. Kita tidak boleh memutuskan sesuatu ketika sedang dalam keadaan marah, karena sudah pasti keputusan yang di ambil pasti tidak bijaksana dan pasti keputusannya menjadi tidak adil.
b.     Pemarah menimbulkan kerusakan baik antar manusia. Orang yang mudah marah atau pemarah sulit mengontrol diri, sehingga semua yang ada di sekitarnya akan menjadi sasaran kemarahannya.
c.      Pemarah perusak hubungan baik antar manusia. Hubungan antara anak dan orang tua bisa menjadi kacau bila salah satu atau keduanya saling memarahi. Persahabatan bias menjadi tidak harmonis bahkan akan bercerai berai bila mereka tidak dapat mengendalikan marah.
d.     Dapat terjauhkan dari ampunan dari Surga Allah SWT. Di dalam hidup ini manusia diserukan oleh Allah untuk berlomba-lomba berbuat kebajikan dan amal saleh, sehingga dapat meraih predikat sebagai orang yang bertaqwa. Salah satu ciri orang yang bertaqwa adalah, menahan diri ketika hendak marah dan mau memaafkan kesalahan orang lain. Mereka yang seperti itu akan memperoleh ampunan Allah SWT dan Surga yang seluas langit dan bumi.
3.     Cara menghindari dan menahan Ghadab
Cara mengobati sifat kemarahan terlebih kepada seseorang yang mempunyai sifat pemarah adalah :
a.      Apabila seorang yang sedang marah itu dalam keadaan sedang berdiri, maka berusaha duduk. Dan apabila kemarahan itu dilakukan ketika sedang duduk maka berusaha tiduran atau berbaring sambil membaca istighfar.
b.     Mengambil air wudlu[7]. Karena dengan berwudlu dengan air yang suci dan mensucikan, akan mampu mensucikan semua tindakan yang kurang suci, seperti kemarahan.
c.      Membaca ta’awudz (memohon perlindungan Allah dari godaan Syaitan selalu membangkitkan amarah). Syaitan merupakan makhluk Allah SWT yang terbuat dari api, sehingga dia selalu memanas-manasi manusia.
C.     HASAD (DENGKI)
1.     Pengertian Hasad
Hasad artinya menaruh perasaan marah (benci, tidak suka) yang berlarut-larut terhadap keberuntungan orang lain. Sikap dengki biasanya merupakan akibat dari memelihara sifat iri, sehingga sifat dengki ini sudah mengarah kepada perbuatan yang mencerminkan kemarahan dan perselisihan. Orang yang terjangkit penyakit hati dengki mengarah kepada tindakan memusuhi, menjelek-jelekkan, dan menjatuhkan nama baik orang yang dengki.[8]
Bagi orang yang beriman (mukmin), sifat dengki ini mutlak harus dihindari bilah benih-benih dengki mulai merasuk dalam hati seorang mukmin, maka dia harus dengan segera menghilangkannya sebelum kedengkian itu tumbuh dan berkembang. Semakin besar kadar dengki akan semakin sulit di hilangkan.
2.     Akibat Negatif Hasad
Sifat dengki berkakibat buruk bagi kehidupan pribadi seseorang dan sekaligus dapat merusak tatanan hidup yang rukun dan harmonis di masyarakat. Di samping itu perbuatan hasan akan menghapus kebaikan dan pahala yang kita miliki. Sebagaimana hadist Rasulullah SAW [9]:
َعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ اَلْحَسَدَ يَأْكُلُ اَلْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ اَلنَّارُ اَلْحَطَبَ ) رَواَهُ أَبُو دَاوُدَ 



Artinya : Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Jauhilah sifat hasad karena hasad itu memakan (pahala) kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar." Riwayat Abu Dawud.
Orang yang memendam sifat hasad akan selalu berfikiran negatif. Perasaanya selalu merasa tidak tenang begitu melihat orang lain mendapatkan karunia, prestasi atau kebaikan. Kondisi kejiwaan seseorang yang demikian pasti membuat dirinya sulit maju, berprestasi, dan berkembang.
D.    GHIBAH
1.     Pengertian
Ghibah adalah keburukan atau aib orang lain. Tentang hal ini RAsulullah SAW bersabda dalam hadisnya :
َوَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( أَتَدْرُونَ مَا اَلْغِيبَةُ؟ قَالُوا: اَللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ: ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ قِيلَ: أَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ؟ قَالَ: إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ اِغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فَقَدْ بَهَتَّهُ )  أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ



Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Tahukah kalian apa itu ghibah." Mereka menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Beliau bersabda: "Yaitu engkau menceritakan saudaramu apa yang tidak ia suka." Ada yang bertanya: Bagaimana jika apa yang aku katakan benar-benar ada pada saudaraku?. Beliau menjawab: "Jika padanya memang ada apa yang engkau katakan maka engkau telah mengumpatnya dan jika tidak ada maka engkau telah membuat kebohongan atasnya." Riwayat Muslim.[10]
Ghibah tidak terbatas hanya pada ucapan lidah[11], akan tetapi setiap gerakan isyarat, ungkapan, sindiran, celaan, tulisan, dan segala sesuatu yang di pahami sebagai hinaan, maka hal itu haram dan termasuk ghibah.
2.     Akibat Negatif Ghibah
Orang yang melakukan ghibah akan mengalami kerugian, karena pahala amal kebaikannya dia bahkan orang yang menjadi sasaran ghibahnya. Agar manusia berhati-hati terhadap ghibah, maka Allah SWT menyamakan dengan orang yang memakan daging saudaranya yang sudah mati.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ (١٢)
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang (Q.S al-Hujurat: 12)[12]
Tentu sangat menjijikkan makan daging bangkai, semakin menjijikkan lagi apa yang di makan adalah daging bangkai, terlebih lagi saudara kita sendiri. Demikianlah Ghibah, ia pun sangat menjijikan sehingga sudah sepantasnya untuk di jauhi dan di tinggalkan.
Ghibah yang di perbolehkan[13]
 Menceritakan aib atau keburukan orang lain tidak selamanya di larang. Dalam keadaan tertentu, bercerita tentang fakta keburukan orang lain tersebut di perbolehkan, yaitu ketika  
a.      Orang yang yang di zalimi boleh menceritakan kepada hakim tentang kezhaliman yang di lakukan terhadapnya atau penghianatannya.
b.     Memberi kesaksian kejahatan yang di lakukan oleh seseorang di depan penyidik atau di depan hakim.
c.      Meminta pertolongan untuk mengubah kemungkaran dan menceritakan kepada yang mampu mengubah kemungkaran itu, agar menjadi kebenaran
d.     Bercerita kepada seorang psikolog untuk meminta nasehat, misalnya seorang istri yang menceritakan suaminya yang pemarah atau jahat.
e.      Memperingatkan kaum muslimin dari kejahatan seseorang, apabila hal itu di khawatirkan akan menimpa mereka.
f.      Menceritakan orang yang terang-terangan berbuat fasik dan membahayakan kehidupan masyarakat muslim.
3.     Bertaubat dari Ghibah
a.      Dengan cara menyesali perbuatan itu, bertekad untuk tidak melakukannya kembali dan beristighfar serta bertaubat dengan benar.
b.     Bila Ghibah telah terdengar oleh orang yang bersangkutan, maka dia harus mengemukakan alasan serta meminta maaf kepadanya. Jika belum terdengar, hendaklah memintakan ampun untuknya, mendoakannya kepada Allah SWT dan memuliakannya sebanding dengan kejelekan yang telah di lakukan terthadapnya.
E.    NAMIMAH (ADU DOMBA)
1.     Pengertian Namimah
Namimah artinya mengadu domba[14] antara pihak satu dengan pihak yang lain. Orang yang mempunyai penyakit hati namimah suka sekali menyebarkan berita yang menimbulkan kekacauan antara manusia. Ini termasuk cara syaitan nyang paling keji untuk memisahkan dua kelompok, merusak ukhuwah (persaudaraan) dan mahabbah (rasa kasih sayang). Namimah termasuk dosa besar yang di haramkan , Allah berfirman  dalam Q.S Al-Humzah 1 :
وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ (١)
Artinya: Celakahlah bagi Setiap pengumpat lagi pencela[15]
Namimah juga dapat berbentuk memprovokasi atau memanas-manasi situasi agar terjadi perselisihan. Perilaku mengadukan ucapan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak dan menciptakan perselisihan adalah salah satu factor yang menyebabkan terputusnya ikatan persaudaraan/ persahabatan, serta menyulut api kebencian dan permusuhan sesame manusia. Allah mencela perilaku perbuatan tersebut dalam Firmannya Q.S Al-Qalam : 10-11 yaitu:
وَلا تُطِعْ كُلَّ حَلافٍ مَهِينٍ (١٠)هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ (١١)
Artinya: dan janganlah kamu ikuti Setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah,[16]
Dalam sebuah Hadist  Nabi SAW di sebutkan :
َوَعَنْ حُذَيْفَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( لَا يَدْخُلُ اَلْجَنَّةَ قَتَّاتٌ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْه
Dari Hudzaifah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Tidak akan masuk surga orang yang suka memfitnah." Muttafaq Alaihi.[17]
2.     Bahaya Namimah
Jika Seorang siswa yang terjangkit penyakit hati namimah yang selalu menceritakan perkataan atau sikap temannya kepada teman yang lain sehingga kedua teman tersebut saling membenci. Semua hal ini hukumnya haram. Namimah bukan yang kecil, bahkan para ulama mengkategorikannya di dalam dosa besar karena akibat yang ditimbulkan juga sangat berbahaya.
Dengan demikian akibat akibat ini sangat besar dan fatal sekali, akibat namimah terkoyak persahabatan saudara karib dan melepaskan ikatan yang telah dikokohkan oleh Allah SWT. Ia pun mengakibatkan kerusakan di muka bumi serta menimbulkan permusuhan dan kebencian.
3.     Cara bertaubat dari Namimah
a.      Menyesali perbuatan itu, bertekad untuk tidak melakukannya kembali dan beristighfar serta bertaubat dengan benar.
b.     Bila sudah terlanjur memanas-manasi keadaan, maka dia harus segera meluruskan kembali permasalahannya sehingga suasana menjadi tenteram kembali kemudian meminta maaf kepada keduanya.
c.      Jika telah terjadi permusuhan dan perselisihan antar pihak yang di adu domba, maka dia harus berusaha untuk mendamaikannya kembali dan meminta maaf kepada kedua belah pihak serta berjanji tidak akan mengulangi lagi.[18]

PENUTUP
A.    Kesimpulan
Macam-macam Akhlak Tercela diantaranya:
1.     Ananiah (Egois) berarti sifat yang mementingkan diri sendiri
2.     Ghadab (Pemarah) artinya sifat seseorang yang mudah marah
3.     Hasad (Dengki) artinya menaruh perasaan msrsh (benci, tidak suka) yang berlarut-larut terhadap keberuntungan orang lain.
4.     Ghibah artinya menceritakan keburukan atau aib orang lain.
5.     Namimah (Adu domba) artinya mengadu domba antara pihak satu dengan pihak yang lain.
B.    Saran
Kami menyadari, kami sebagai seorang pelajar yang masih dalam proses pembelajaran, makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat positif, Harapan kami, semoga makalah ini, dapat memberikan manfaat khususnya bagi penulis dan umumnya pagi para pembaca.














DAFTAR PUSTAKA
Al-Hafidh Imam Ibnu Hajar al-Asqalany, Bulughul maram,  Surabaya : Pustaka al-Hidayah: 2008.
Dept. Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemah, Jakarta : Yayasan Penyelenggara Penerjemah Al-Qur’an, 1986.
TIM MGPG PAI SMPN kabupaten Sidoarjo, Pendidikan Agama Islam, Surabaya: CV. Azizah, 2011




[1] TIM MGPG PAI SMPN kabupaten Sidoarjo, Pendidikan Agama Islam, (Surabaya: CV. Azizah, 2011), 38.
[2] Dept. Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemah, (Jakarta : Yayasan Penyelenggara Penerjemah Al-Qur’an, 1986, 655.
[3] TIM MGPG PAI SMPN kabupaten Sidoarjo, Pendidikan Agama Islam, Ibid., 39.
[4] Dept. Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemah, ibid., 98
[5] Al-Hafidh Imam Ibnu Hajar al-Asqalany, Bulughul maram, ( Surabaya : Pustaka al-Hidayah: 2008), 302.
[6] TIM MGPG PAI SMPN kabupaten Sidoarjo, Pendidikan Agama Islam, Ibid., 41.
[7] Uwes Qorni, 60 penyakit hati, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 1999), 95.
[8] TIM MGPG PAI SMPN kabupaten Sidoarjo, Pendidikan Agama Islam, Ibid.,42.
[9] Al-Hafidh Imam Ibnu Hajar al-Asqalany, Bulughul maram,Ibid., 302.
[10] Al-Hafidh Imam Ibnu Hajar al-Asqalany, Bulughul maram,Ibid., 304.
[11] Ibrahim M. al-Jalal, Penyakit-penyakit hati, (Bandung : Pustaka Hidayah, 1995), 86
[12] Dept. Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemah, Ibid., 847
[13] TIM MGPG PAI SMPN kabupaten Sidoarjo, Pendidikan Agama Islam, Ibid., 44.
[14] Ibrahim M. al-Jalal, Penyakit-penyakit hati,Ibid., 131.
[15] Dept. Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemah, ibid., 1101.
[16] Dept. Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemah, ibid., 961.
[17]Al-Hafidh Imam Ibnu Hajar al-Asqalany, Bulughul maram,Ibid., 305
[18] TIM MGPG PAI SMPN kabupaten Sidoarjo, Pendidikan Agama Islam, Ibid., 46.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar